Artikel ke-30, Thariqat Shufiyyah Menurut Kacamata Islam (Bagian Pertama)
Oleh: Redaksi Majalah Fatawa
Shufiyyah merupakan suatu gerakan keagamaan yang telah tersebar hampir di seluruh negeri kaum Muslimin. Dalam menyikapi gerakan Shufiyyah ini, manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan pendukung dan golongan penentang.
Lalu bagaimana seorang Muslim dapat mengetahui mana yang benar diantara dua golongan ini sehingga dapat bersikap dengan benar? Apakah dia termasuk golongan pendukung yang berjalan bersama mereka? Ataukah termasuk golongan penentang yang menjauhi mereka?
Untuk bisa mengetahui hal ini, maka tidak ada jalan bagi kita kecuali hanya dengan merujuk (kembali) kepada al- Qur’an dan as-Sunnah yang shahihah demi mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya);
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as- Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’ : 59)
Pada tulisan ini, kami akan mengulas hakikat Shufiyyah, ajaran-ajarannya yang menyimpang dari Islam, serta beberapa thariqat-nya yang dikenal di tengah-wtengah kaum Muslimin. Tentu saja tulisan ini adalah bagian kecil dari pembahasan panjang mengenai masalah Shufiyyah. Semoga yang sedikit ini dapat membuka mata kita (mengenai) apa dan bagaimana sesungguhnya ajaran ini. Semoga bermanfaat.
Hakikat Shufiyyah dan Asal-Usulnya
Pada mulanya nama Shufiyyah tidaklah dikenal di kalangan kaum Muslimin, baik pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat radhiyallahu ‘anhuma, maupun masa Tabi‘in. Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya muncul sekelompok orang-orang zuhud yang mempunyai ciri mengenakan baju yang terbuat dari shuf (kulit dan bulu kambing atau domba) yang menyiratkan kefakiran mereka. Maka jadilah nama Shufiyyah ini dinisbatkan kepada mereka. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata Shufiyyah berasal dari kata shufiya (bahasa Yunani) yang berarti hikmah. Kata ini muncul ketika buku-buku filsafat Yunani mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Adapun klaim pengikut kalangan Shufiyyah bahwa kata Shufiyyah diambil dari kata shafa’ (yang berarti jernih) sangatlah tidak benar karena kalau memang demikian halnya, maka semestinya bentuk penisbatannya adalah shafa’i (bukan shufiyyah)1. Begitu pula pendapat bahwa Shufiyyah diambil dari kata shuffah, atau shaff yang berarti memasrahkan diri kepada Allah, atau shafwah (makhluk pilihan Allah), juga tidak benar karena semestinya penisbatannya adalah shuffi (rangkap ‘f’), shafawi, dan shaffi. Demikian pula, pendapat yang mengatakan bahwa Shufiyyah adalah nisbat kepada seseorang bernama Shufah bin Bisyir bin ‘Ad bin Thabikhah —yang dijadikan nama salah satu kabilah Arab yang tinggal di Makkah pada masa silam (masa jahiliyyah)— adalah pendapat yang lemah, meskipun secara lafal penisbatan ini benar, karena kabilah tersebut tidak dikenal (ada). Jikalau kabilah ini memang ada dan dikenal, tentu penisbatan tersebut sudah ada di masa sahabat, tabi‘in dan atba‘ tabi‘in dan telah digunakan oleh mereka.2
Demikianlah beberapa pendapat tentang asal-usul kata Shufiyyah menurut bahasa beserta bantahan terhadap sebagiannya.
Ajaran-Ajaran Shufiyyah dalam Timbangan al-Qur’an dan as- Sunnah3
Karena Shufiyyah adalah ajaran yang datang belakangan, sudah barang tentu ada saja ajaran-ajarannya yang menyelisihi apa yang ada sebelumnya. Baik itu berupa penyimpangan dalam masalah aqidah, ibadah, maupun akhlak. Berikut ini kami sampaikan ajaran-ajaran Shufiyyah yang menyimpang dari ajaran Islam, yang telah menyebar di tengah kaum Muslimin.
- Shufiyyah menyeru dan berdoa kepada selain Allah, seperti kepada para Nabi maupun para wali, baik yang masih hidup maupun yang telah mati. Diantaranya mereka berkata dalam doa mereka; “Ya Jailani,” “Ya Rifa‘i,” “Ya Rasulullah, tolonglah dan bantulah kami.” “Ya Rasulullah, engkau-lah tempat bergantung.”Padahal Allah telah melarang hamba- Nya berdoa kepada selain-Nya karena hal tersebut merupakan bentuk kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya);
“Dan janganlah kamu menyeru (menyembah) apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Yunus : 106)[Maksud dari orang-orang zhalim di sini adalah orang-orang yang berbuat syirik].
Do’a adalah ibadah, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya);
“Do’a adalah ibadah.”4
Karena do’a adalah ibadah, maka seperti halnya shalat (dan ibadah lainnya), tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, sekalipun kepada seorang Nabi, apalagi hanya seorang wali. Hal itu karena mengarahkan ibadah kepada selain Allah adalah syirik akbar yang bisa menghapus atau menggugurkan seluruh amalan dan mengekalkan pelakunya dalam api neraka.
- Kaum Shufiyyah meyakini adanya sejumlah wali badal (wali pengganti) dan wali quthub (wali poros/kutub) yang diserahi Allah untuk mengatur dan memelihara urusan-urusan yang ada di alam.Mereka ini lebih sesat dari kaum musyrikin, karena kaum musyrikin saja mengetahui siapa yang mengatur alam ketika hal itu ditanyakan kepada mereka. Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya);
“Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab; ‘Allah.’” (QS. Yunus : 31)
- Orang-orang Shufiyyah bersandar kepada selain Allah tatkala dirundung musibah, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman (yang artinya);“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang mampu menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. al-An’am : 17)
Allah telah pula menceritakan kebiasaan kaum musyrikin pada masa Jahiliyyah dulu ketika ditimpa musibah (dalam al-Qur’an, yang artinya);“Kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. an-Nahl : 53)
- Sebagian kaum Shufiyyah memiliki keyakinan Wihdatul-Wujud (bersatunya Tuhan dengan dengan makhluk), sehingga menurut mereka tidak ada istilah Khalik (pencipta) dan makhluk. Menurut mereka, dalam satu waktu semua adalah makhluk, sekaligus adalah sesembahan yang disembah (ilah). Tokoh mereka Ibnu Arabi, yang dikubur di Damaskus, pernah mengatakan (dalam bait-bait syairnya);Hamba itu Tuhan dan Tuhan itu Hamba
Duhai kiranya aku tahu siapa yang mukallaf?5
Jika kukatakan hamba, hal itu benar
Atau jika kukatakan Tuhan, tapi bagaimana Dia yang mukallaf?
[al-Futuhat al-Makkiyah oleh Ibnu Arabi]Betapa nyata kesesatan dan kebingungan (kebodohan) mereka tentang hakikat Rabb (Tuhan).“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” (QS. asy-Syura : 11)
- Orang-orang Shufiyyah menyatakan bahwa beribadah kepada Allah itu bukan karena takut neraka-Nya, dan bukan pula karena mengharap surga-Nya. Mereka berdalil dengan perkataan Rabi‘ah al-‘Adawiyah; “Ya Allah, jika aku menyembah- Mu karena takut neraka-Mu, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu, maka haramkanlah aku darinya.” Demikian pula perkataan Abdul-Ghani an-Nabilisi; “Barangsiapa yang menyembah Allah karena takut neraka-Nya, maka dia telah menyembah neraka. Dan barangsiapa yang menyembah Allah karena mengharap surga-Nya, maka dia telah menyembah berhala.”Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji para Nabi-Nya yang berdoa kepada-Nya dengan mengharap surga-Nya dan takut azab-Nya. Allah berfirman (yang artinya);
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.” (QS. al-Anbiya’ : 90)[Maksudnya berharap surga-Nya dan cemas akan azab-Nya].
Bahkan Allah telah memerintah Rasul- Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan (yang artinya);
“Katakanlah (hai Muhammad); ‘Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari Kiamat) jika aku mendurhakai Rabb-ku.’” (QS. al-An‘am : 15)
- Shufiyyah mendakwahkan (bahwa) diri mereka bisa membuka dan mengetahui perkara ghaib. Akan tetapi, al-Qur’an mendustakan mereka dengan mengatakan (yang artinya);“Katakanlah; ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.’” (QS. an-Naml : 65)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda (yang artinya);“Tidak ada (seorang pun) yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ath-Thabarani).
- Shufiyyah menganggap bahwa Allah menciptakan Muhammad dari nur-Nya (cahaya-Nya), lalu menciptakan segala sesuatu dari nur Muhammad. Dalam hal ini al-Qur’an mendustakan anggapan mereka dengan mengatakan (yang artinya);“Katakanlah (hai Muhammad); ‘Sesungguhnya aku ini hanya manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku.’” (QS. al-Kahfi : 110)
Dan Allah mengatakan tentang penciptaan Adam ‘alaihis-salam (yang artinya);“(Ingatlah) ketika Rabb-mu berfirman kepada Malaikat, ‘Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah.’” (QS. Shaad : 71)
Adapun hadits yang berbunyi “Yang pertama Allah ciptakan adalah nur Nabi-mu, hai Jabir” adalah hadits palsu dan bathil.
- Shufiyyah menganggap bahwa Allah menciptakan dunia (beserta isinya) ini adalah karena Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. al-Qur’an mendustakan mereka dengan mengatakan (yang artinya);“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. adz-Dzariyat : 56)
Dan bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintah Rasul-Nya dengan mengatakan,“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. al-Hijr : 99)
- Shufiyyah menganggap bahwa Allah bisa dilihat di dunia ini. al-Qur’an telah mendustakan anggapan mereka ini ketika menyebutkan perkataan Musa ‘alaihis-salam (yang artinya);
Termasuk pula kesesatan kaum Shufiyyah ini adalah sebagaimana yang dikisahkan oleh al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulumiddin, dalam bab ‘Hikayat Orang-Orang yang Mencinta dan Pengetahuan Mereka Akan Perkara Ghaib.’ Berikut ini kisahnya.Pada suatu hari, Abu Turab berkata (kepada temannya); “Kalaulah kamu bisa melihat Abu Yazid (al-Busthami)?” Temannya berkata kepadanya; “Saya tidak butuh dengannya. Sungguh saya telah melihat Allah, sehingga hal itu sudah cukup bagiku daripada melihat Abu Yazid.” Abu Turab berkata; “Mengapa kamu terpedaya dengan Allah? Kalaulah kamu bisa melihat Abu Yazid sekali saja, itu lebih bermanfaat bagimu daripada melihat Allah tujuh puluh kali.” Lalu al-Ghazali berkomentar; “Maka pengetahuan- pengetahuan akan perkara ghaib seperti ini tidak pantas diingkari oleh seorang Mukmin.”
Kita katakan kepada al-Ghazali; “Justru wajib atas seorang Mukmin untuk mengingkarinya karena hal itu adalah kedustaan dan kekafiran yang bertentangan dengan al-Qur’an, Hadits, dan akal.”
“‘Wahai Rabb-ku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.’ (Allah) berfirman; ‘Kamu sekali-kali tidak sangup melihat-Ku.’” (QS. al-A’raf : 143) - Shufiyyah meyakini bahwa mereka dapat melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia ini dalam keadaan terjaga. al-Qur’an mendustakan mereka dengan mengatakan (yang artinya);“Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. al-Mu’minun : 100)
[Imam ath-Thabari menyebutkan bahwa maksudnya adalah di hadapan orang-orang yang telah mati ada pemisah yang menghalangi mereka kembali ke dunia sampai hari kiamat].
Di samping itu, belum pernah ada berita yang sampai kepada kita bahwa ada salah seorang Sahabat yang pernah melihat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam (setelah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat) dalam keadaan terjaga. Maka, apakah mereka (Shufiyyah) lebih baik dari para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Subhanallah, sungguh ini adalah kedustaan yang besar.
- Shufiyyah menyatakan bahwa mereka mengambil ilmu langsung dari Allah tanpa perantaraan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata; “Hatiku telah bercerita kepadaku dari Rabb-ku.
Kita katakan bahwa perkataan ini adalah bathil, menyelisihi al-Qur’an yang jelas-jelas menyebutkan bahwa Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan perintah-perintah Allah kepada manusia. Allah berfirman (yang artinya);“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu.” (QS. al-Maidah : 67)
Lagipula tidak mungkin seseorang mengambil –ilmu- langsung dari Allah. Dan itu adalah kebohongan dan kedustaan. Demikian pula bahwa manusia tidaklah bisa menjadi khalifah (pengganti) Allah karena Allah tidak akan pergi sehingga harus digantikan oleh manusia. Justru Allah-lah yang akan mengantikan kita ketika kita pergi dan bersafar sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits (tentang doa safar):
“Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan, dan pengganti (penjaga) keluarga.” (HR. Muslim)
”Ibnu Arabi, yang dikubur di Damaskus, dalam kitabnya al-Fushush berkata; “Di antara kami ada khalifah penerus Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengambil hukum dari beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) atau dengan ijtihad yang telah ditetapkan olehnya pula, dan diantara kami ada yang mengambil (langsung) dari Allah sehingga dia menjadi khalifah Allah.” - Shufiyyah menggunakan rajah-rajah, huruf-huruf, dan angka-angka untuk beristikharah (meminta pilihan), demikian pula jimat-jimat dan yang lainnya.Kita katakan; “Mengapa mereka bersandar kepada khurafat baik dalam menghitung nama pasangan suami-isteri dalam istikharah, dan dengan kebid‘ahan dan kemungkaran lainnya, sementara mereka meninggalkan doa istikharah -yang terdapat dalam Shahih Bukhari- yang pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya sebagaimana mengajarkan surat dari al-Qur’an. Beliau bersabda, ‘Apabila salah seorang kalian meniatkan suatu perkara, maka hendaklah dia shalat dua rakaat –sunnah- yang tidak wajib, kemudian mengucapkan;‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-mu dengan ilmu-Mu, aku memohon perhitungan kepada-Mu dengan kodrat-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang besar. Karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Mahamengetahui sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Mahamengetahui perkara-perkara yang ghaib.”” (HR. Bukhari)
- Shufiyyah menyengaja bersafar ke kuburan-kuburan dengan tujuan mengambil berkah dari mayit penghuni kuburan itu atau melakukan thawaf (berkeliling) di seputarnya, atau menyembelih di sana. Dengan semua itu, mereka telah menyelisihi sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya); “Janganlah (disengaja) bersafar kecuali ke tiga masjid, yaitu al-Masjidil-Haram, masjidku ini (masjid Nabawi), dan al-Masjid al-Aqsha.” (Hadits Muttafaq ‘alaih)
Bersambung, Insya Allah.
Catatan Kaki:
- ^ ash-Sufiyyah (halaman 5) oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, dengan perubahan.
- ^ Lihat at-Tashawwuf (hal. 32) oleh Syaikh Abdul-Qadir as-Sindi, menukil dari ash-Shufiyyah wa al-Fuqara (halaman 11-12) oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah.
- ^ Dinukil dari risalah ash-Shufiyyah (halaman 6-23), dengan perubahan.
- ^ HR. at-Tirmidzi, nomor 2969, 3247. Beliau menilainya hasan shahih.
- ^ Yang terbebani untuk menjalankan syari’at.
Hubungi Kami
Donasi
Bank: Bank Muamalat. Account Number: 912-523-8699. Account Owner: Ronny Anthony Akbar. SWIFT Code: MUABIDJA.Halaman
-
5 Artikel Terbaru
Kategori
- Agama, Paham, Pemikiran dan Kelompok di Luar Islam
- Aqidah dan Manhaj
- Fiqih
- Kelompok Sempalan Sesat
- Masalah-masalah Kontemporer
- Paham Sesat
- Penulis
- 'Abdul-'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada
- Abu Asiah
- Abu Humaid Arif Syarifuddin
- Abu Ibrahim Muhammad 'Ali
- Abu Mush'ab
- Abu Nida
- Abu Usamah al-Kadiriy
- al-Ustadz Abdul-Hakim bin Amir Abdat
- al-Ustadz Abu Ahmad
- al-Ustadz Abu Humaid, Lc
- al-Ustadz Abu Ihsan al-Atsari al-Maidani
- al-Ustadz Abu Qatadah
- al-Ustadz Abu Saad, MA
- al-Ustadz Khairul Wazni, Lc.
- al-Ustadz Mu’tashim, Lc
- al-Ustadz Syamsuri
- Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman
- Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
- Lajnatu ad-Da-imatu lil-Buhuts al-Ilmiyati wal-Ifta’
- Muhammad Ashim bin Musthafa
- Prof. Dr. 'Abdullah al-Mushlih
- Prof. Dr. Shalah ash-Shawi
- Redaksi Majalah Fatawa
- Shalih bin Muhammad al-Wunaiyyan
- Syaikh Abdul-Aziz bin 'Abdullah bin Baz
- Syaikh Abdul-Hamid al-Bilaly
- Syaikh Abdul-Malik bin Ahmad Ramadhani
- Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman
- Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied al-Hilali
- Syaikh al-'Alamah Prof. Dr. Rabi bin Hadi al-Madkhali
- Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari
- Syaikh Bakar bin 'Abdillah Abu Zaid
- Syaikh Dr. Muhammad Abdurrahman al-Khumais
- Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu Nashr
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
- Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily
- Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan
- Tri Madiyono
- Sumber
- Tazkiyatun-Nufus
- Wawasan
Awan Tag
'asyura 1971 M ahli kalam Ahlul-Bait Ahlus-Sunnah al-Qur'an Aljazair Bashrah bid'ah bulan Muharram Fatwa Ulama fiqih dakwah ghuluw Golkar golongan yang selamat hakikat Hari Raya Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu Husain radhiyallahu 'anhu Imam Abu Hanifah Imam Ahmad Imam asy-Syafi’i Imam Empat Imam Malik Irak Islam Jama'ah istiwa' jihad JIL (Jaringan Islam Liberal) kaum wanita kuburan Lemkari lukisan masjid Muhammad Quthb natal Nur Hasan Ubaidah Lubis orang kafir salaf Salafi Salafiyah Sayyid Quthb takfir terorisme ushul (pokok utama)Arsip
Jaringan Kami
Beri komentar