Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah Indonesia Apabila Telah Shahih Suatu Hadits, Maka Itulah Madzhab Kami

Artikel ke-48, Panah Syaithan

Oleh: Shalih bin Muhammad al-Wunaiyyan

TANPA HAK CIPTA. Anda diperbolehkan menyebarluaskan, mengutip/menyalin sebagian atau seluruh isi dari artikel ini dengan syarat Anda tidak melakukan perubahan apapun, tidak untuk tujuan komersil dan harus mencantumkan sumbernya.

Mukaddimah

Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Kami senantiasa memuji-Nya, memohon pertolongan serta meminta ampunan kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan yang dibisikkan oleh jiwa-jiwa kami, serta dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan hidayah, niscaya tiada satu orang pun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, niscaya tiada seorang pun yang dapat memberinya hidayah.

Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah atas junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, atas segenap keluarga serta seluruh sahabat Beliau.

Amma ba'du,

Wahai pembaca yang mulia, sebelumnya kami ucapkan; Salamun 'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu,

Sudah kita maklumi bersama bahwa banyak sekali tipu daya syaithan untuk menyesatkan bani Adam. Oleh sebab itu, saya katakan dengan serta-merta meminta pertolongan kepada Allah, bahwa panah-panah syaithan tersebut sangat banyak. Panah yang dapat melumpuhkan mangsanya sehingga tidak kuasa berbuat kebaikan dan mampu menggiringnya untuk selalu mengikuti hawa nafsu serta berkhayal yang muluk-muluk. Jika sebuah panah meleset dari sasarannya, pasti akan diikuti dengan panah kedua, ketiga, dan seterusnya. Syair dibawah ini sangat tepat untuk menggambarkan hal itu:

Sekiranya hanya sebuah panah niscaya akan dapat kuelakkan.

Namun begitu satu meleset maka dua-tiga pun terbilang.

Saudaraku yang mulia, membebaskan diri dari segala cela dan menghindar dari panah tipu daya syaithan adalah fase yang sangat menentukan dalam membentuk pribadi yang luhur dan terbina. Terutama bagi yang mencanangkan dirinya berada di jalur dakwah menuju Dienullah. Fase tersebut ibarat gerbang yang harus dilewati menuju pembentukan diri. Yakni membebaskan diri dari segala cela merupakan gerbang menuju pribadi mulia, yang akan membentuk akhlak dan tutur kata yang luhur.

Umar bin 'Abdul-Aziz rahimahullah pernah menulis surat kepada para gubernur di seluruh wilayah kekuasaannya sebagai berikut:

Jangan sampai ada perkara yang lebih penting untuk kamu perhatikan selain perkara dirimu! Sebab sekecil apapun dosa itu, tetap tidak pantas untuk disepelekan.

Beliau memandang bahwa seluruh dosa, yang besar maupun yang kecil, tetap menjadi beban berat bagi diri. Pokoknya selama bumi masih berputar, Umar bin 'Abdul-Aziz dan kaum Salaf lainnya senatiasa menjaga diri dari segala dosa-dosa, yang besar maupun yang kecil. Seorang penyair menitipkan pesan lewat sebuah syair:

Jauhkanlah dirimu dari segala dosa, yang besar maupun yang kecil, itulah hakikat takwa.

Jalanilah kehidupan bagaikan orang yang menempuh jalan penuh onak dan duri, senantiasa berhati-hati dari bahaya yang dilihat.

Janganlah engkau remehkan dosa sekalipun kecil, bukankah gunung yang menjulang tinggi berasal dari kerikil-kerikil kecil yang terhampar?”

Setiap kali kita mengingat keadaan kaum Salaf rahimahumullah, lalu kita bandingkan dengan keadaan diri kita, semakin terkuaklah borok-borok diri. Kita teringat ucapan 'Abdul-Aziz bin Abi Rawwad rahimahullah, ia berkata; “Setiap kali kita mengingat keadaan kaum Salaf, maka akan kelihatan kekurangan kita.” Bagaimana pula jika dibandingkan dengan keadaan kita yang hidup di zaman sekarang ini? Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata kita memohon pertolongan.

Dalam buku yang sederhana ini kami akan mengetengahkan kepada para pembaca beberapa panah-panah yang dilepaskan syaithan dan bala tentaranya yang diperankan oleh sebagian manusia, hingga mereka menjadi penyakit yang sering dikeluhkan masyarakat.

Panah Pertama:
Nilai Ketaatan yang Memudar dan Melemah

Seringkali kita melihat seseorang sebut saja si Fulan yang meningkat nilai ketaatannya kepada ajaran agama, namun begitu tidak kelihatan (menghilang) beberapa waktu saja, tiba-tiba suatu hari kita dikejutkan dengan keadaan ketaatannya sudah jauh menurun. Sebagai contoh, lihatlah keadaan kaum Muslimin di awal bulan Ramadhan (yang penuh dengan ibadah dan ketaatan), kemudian bandingkan dengan keadaan mereka beberapa hari atau beberapa bulan setelah Ramadhan berlalu, kita akan dapat melihat perbedaan yang amat mencolok.

Memudar dan melemahnya nilai ketaatan adalah dengan meninggalkan ketaatan itu sendiri atau tidak mempertahankan keutuhan nilai-nilai agama di dalam diri berupa amal-amal shalih, akhirnya jatuh kepada perkara haram. Ada beberapa fenomena yang dapat kita saksikan di tengah-tengah kaum Muslimin berkaitan dengan masalah ini, sebagai berikut:

1. Tidak Hati-hati Dalam Berbicara dan Berjanji

Banyak sekali orang yang mengeluhkan masalah ini. Masih sering kita jumpai seseorang yang membuat janji kepada saudaranya sesama Muslim, namun ia tidak menaruh perhatian terhadap janjinya itu, bahkan seringkali ia langgar atau terlambat menepatinya. Lebih parah lagi kadangkala ia malah meniatkan melanggar perjanjian itu tanpa mempedulikan akibatnya dan tanpa memperhitungkan pahala yang bakal diperoleh dari menepati janji. Lucunya terkadang ia malah menggerutu bila janji-janji itu ditepati sambil mengolok: “Apakah kita harus berlagak kebarat-baratan?” Apakah ia lupa atau pura-pura tidak tahu bahwa menepati janji adalah salah satu keistimewaan kaum Muslimin. Kalau tidak percaya, silakan buka lembaran-lembaran sejarah dan biografi tokoh-tokoh Islam dalam hal menepati janji. Perlu diketahui, ketika kaum Muslimin meremehkan masalah ini, musuh-musuh Islam justru mencaploknya. Sehingga sangat disayangkan bila mereka mengambil intinya sementara kaum Muslimin kebagian kulitnya saja.

2. Terburu-buru dalam Memvonis Tanpa Cek-dan-Ricek (Tabayyun) Terlebih Dahulu

Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang menimbang dengan dua timbangan (tidak fair dalam memvonis orang). Mereka membuat-buat tuduhan lalu menjatuhkan vonis secara keji. Jika ditanya tentang alasannya, tanpa malu-malu mereka berkata; “Begitulah dugaan saya!” “Kata orang demikian!” “Aku dengar orang-orang berkata begitu!

Bila ditanya tentang seseorang, ia langsung memvonis; “Ia seorang ahli bid'ah!” atau yang lebih parah dari itu. Tanpa ragu ia memvonis fasik atau memvonis kafir orang lain. Jika engkau tanya; “Siapakah orang yang memberi tahu kamu hal ini, apa bukti kamu?” Ia akan terdiam seribu bahasa. Apakah mereka lupa atau tidak tahu bahwa tabayyun termasuk manhaj (prinsip) Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah? Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini (yang artinya):

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat [49] : 6)

Sungguh sangat mengherankan bila musuh-musuh Islam dengan beragam tingkatannya dapat terhindar dari kebenciannya sementara saudara-saudaranya seiman tidak dapat terhindar dari itu?!

Sikap mereka itu mengingatkan saya kepada sindiran salah seorang tokoh Salaf ketika mendapati seseorang mencela saudaranya seiman. Ia katakan kepada orang yang mencela itu; “Apakah engkau pernah memerangi pasukan Romawi?” “Belum!” jawabnya. “Apakah engkau pernah berperang melawan tentara Parsi?” tanya Beliau lagi. “Belum!” jawabnya. Beliau lantas berkata; “Subhanallah, musuh-musuh Allah dapat terhindar dari gangguanmu sementara saudaramu seiman tidak!?” Lalu Beliau membacakan ayat;

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya.” (QS. al-Maidah [5] : 74)

Tidakkah mereka mengetahui bahwa setiap Muslim akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh ucapannya?

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18)

3. Berlaku Aniaya dalam Pertengkaran dan Tidak Memperhatikan Etika dalam Berbeda Pendapat

Sebagian orang ada yang begitu tertambat hatinya dengan sebuah pendapat. Kadangkala ia menetapkan wala' dan bara' atas dasar pendapat tersebut. Konsepnya mengatakan; “Jika kamu tidak bersamaku, maka engkau adalah musuhku!” Oleh sebab itu ia tidak mau bergeming dari pendapat itu meskipun sejengkal, atau paling tidak mengatakan bahwa pendapatnya itu mungkin salah! Kadangkala ia mencampuri masalah niat dan menebak-nebak isi hati orang lain. Terkadang ia juga mendikte dengan apa yang sebenarnya tidak diyakini oleh seterunya itu, atau dengan cara-cara keji lainnya.

4. Mendengarkan Isu dan Kabar Dusta

Sekarang ini banyak kita temui orang yang suka mendengar kiri-kanan, suka mendengar isu-isu dari setiap orang. Kemudian ia menyebarkan seluruh yang didengarkannya tanpa rasa takut dan bersalah. Kadangkala sebuah berita dusta yang bersifat adu domba disampaikan kepada seseorang, lalu ia sebarkan berita itu seolah-olah sebuah kebenaran yang nyata. Realita yang sering kita temui pada hari ini cukup sebagai buktinya.

5. Pilih-pilih Amal Ketaatan

Yaitu memilih amalan-amalan ketaatan yang sesuai dengan dorongan hawa nafsunya saja. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

Orang yang bijaksana adalah yang mengoreksi dirinya dan segera beramal sebagai bekal untuk hari Akhirat. Dan orang yang lemah adalah yang selalu memperturutkan hawa nafsu, disamping itu ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Oleh sebab itu pula, sebagian orang hanya mengikuti kebenaran yang sejalan dengan hawa nafsunya. Kalau tidak sejalan, maka ia akan menoleh ke kiri dan ke kanan mencari tempat bersandar. Sebagian ulama Salaf ada yang berkata; “Hawa nafsu dapat menjadi ilah (tuhan) yang disembah-sembah. Kemudian ia membaca ayat;

'Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya.'” (QS. al-Jatsiyah [45] : 23)

6. Menelantarkan Urusan Keluarga

Tidak memperhatikan pertumbuhan keluarga dan anak-anak sampai kepada kondisi yang diharapkan. Seringkali kita temui orang-orang yang sibuk dengan karirnya, sementara keluarga dan anak-anaknya tenggelam dalam perbuatan dosa. Namun meskipun demikian, hatinya tidak tergerak untuk mengubahnya. Dengan dingin ia berkata: “Ah sudahlah! Yang penting tidak mengganggu karirku.” Kadangkala ia memergoki dengan mata kepalanya sendiri kemungkaran itu, tetapi ia diam seribu bahasa. Begitulah akibatnya jika sudah terlalu banyak berbuat dosa, kesadaran pun sulit tergugah.

7. Tidak Teguh dalam Menghadapi Problematika Kehidupan, Cobaan dan Musibah

Gemerlap kehidupan dunia kerapkali menyesatkan banyak manusia. Sedikit demi sedikit ia terseret ke dalam perbuatan haram. Tidak syak lagi, gemerlap dunia itu sangat kuat pengaruhnya dalam menurunkan nilai ketaatan seseorang, atau bahkan dapat menghilangkan nilai ketaatan itu dalam dirinya.

Tidakkah engkau lihat, seseorang yang keluar dari rumahnya demi mencari sesuap nasi, berbagai usaha pun dicobanya. Namun akhirnya ia terjerumus dalam praktek riba, hingga jadilah ia orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Contoh lainnya, seorang yang bergelimang berbagai kasus penipuan dalam usahanya. Dan masih banyak lagi perkara lain yang merupakan bentuk-bentuk melemahnya nilai ketaatan.

8. Mengabaikan Hak-hak Persaudaraan

Sudah barang tentu, disana ada beberapa hak yang wajib ditunaikan oleh seorang Muslim kepada saudaranya seiman. Hal itu sudah disebutkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits-hadits Beliau. Terkadang seseorang mengabaikan hak-hak tersebut, seakan-akan hak-hak persaudaran itu semata-mata ada jika menguntungkannya saja. Sering kita temui sebagian orang yang melihat saudaranya melakukan perbuatan maksiat dan dosa, namun ia bersikap acuh-tak-acuh saja. Atau ada seorang saudaranya seiman yang meminta nasihat dan pengarahan darinya, atau meminta bantuannya untuk menghilangkan kesulitan, atau kepentingan-kepentingan lainnya, namun ia tidak merespon hal itu sedikitpun, apalagi membantu melepaskan saudaranya itu dari kesulitan! Tentu saja sikap semacam ini dapat mencederai nilai ketaatan.

Realita di atas sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, hal itu dapat kita jadikan barometer dalam mengukur nilai ketaatan yang ada di dalam diri. Semakin banyak hak persaudaraan yang kita abaikan, semakin lemah pula nilai ketaatan kita.

Faktor-faktor Penyebab Melemah dan Memudarnya Nilai Ketaatan

1. Godaan-godaan Syaithan terhadap Umat Manusia

Hendaknya masing-masing orang menyadari bahwa selama hayat dikandung badan ia senantiasa berada dalam kancah peperangan melawan syaithan. Setiap jalan-jalan kebaikan yang ditempuhnya, ia pasti berhadapan dengan syaithan yang siap menghadang. Simaklah hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini (yang artinya):

Sesungguhnya syaithan senantiasa siap menghadang bani Adam dalam setiap langkah yang ditempuhnya. Bila ia menempuh jalan Islam, maka syaithan akan menggoda seraya berkata; 'Apakah engkau sudi meninggalkan ajaran nenek moyangmu dengan menempuh jalan Islam?' Namun seorang hamba Allah sejati tidak akan menghiraukan godaan itu dan tetap menempuh jalan Islam. Bila ia menempuh jalan hijrah, maka syaithan akan datang menggoda seraya berkata; 'Apakah engkau sudi meninggalkan kampung halaman tercinta dengan nekad berhijrah?' Namun ia pun tidak menghiraukan godaan itu dan tetap berhijrah. Bila ia menempuh jalur jihad, maka syaithan akan datang menggoda seraya berkata; 'Jika engkau masih membandel tetap ikut berjihad, niscaya engkau akan terbunuh, istrimu akan dinikahi orang dan hartamu akan dibagi-bagikan! Namun ia menepis godaan itu dan tetap pergi berjihad.” (HR. an-Nasaai dan Ahmad dalam Musnad-nya dari Sabrah bin Abi Fakih radhiyallahu 'anhu secara marfu')

Ketahuilah bahwa kancah peperangan ini sangat berat dan melelahkan, ditebarkan oleh syaithan dan bala tentaranya dimana-mana. Maka hendaklah kita benar-benar siap menghadapinya. Syaithan, hawa nafsu, angkara murka dan godaan dunia siap menjerat setiap saat.

Seorang penyair menuturkan:

Sungguh, diriku dihujam dengan empat anak panah,

Yang tiada henti-henti melesat dari busurnya menghujam diriku.

Yaitu iblis, dunia, ambisi diri dan hawa nafsu.

Wahai Rabb-ku, hanya Engkau jualah yang kuasa menyelamatkan diriku.

Oleh karena itu, sudah seyogyanya kita selalu waspada terhadap segala tipu daya syaithan. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman (yang artinya):

Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.” (QS. Fushshilat [41] : 36)

Sadarilah bahwa pada detik ini kamu tengah berperang melawan syaithan, janganlah sampai engkau dipecundanginya. Hati-hatilah terhadap tipu daya syaithan, janganlah sampai mengecoh dirimu. Sesungguhnya tipu daya syaithan itu sangat lemah wahai saudaraku! Dengarlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini (yang artinya):

Oleh sebab itu, perangilah kawan-kawan syaithan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah.” (QS. an-Nisa' [4] : 76)

Halaman: [1] [2] [3] [4] [5] [6]

Kategori: Adab dan Akhlak, Shalih bin Muhammad al-Wunaiyyan, Tazkiyatun-Nufus
Sumber: Artikel ini disalin dari situs Web Yayasan al-Sofwa, http://alsofwah.or.id (dengan sedikit perubahan). Alamat: Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 35, Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12610. Telepon: (021) 7883-6327. Faks:(021) 7883-6326. Email: info@alsofwah.or.id.

Beri komentar

Silakan isi data dan komentar Anda dibawah. Mohon berikan komentar HANYA yang memberikan nilai tambah ilmiah kepada artikel ini. Komentar yang hanya berupa ucapan terima kasih atau semacamnya tidak akan kami setujui.
Nama:
E-Mail:
Situs Web:
Komentar Anda: