Artikel ke-68: Yahudi Bukan Isra’il
Oleh: Syaikh Bakar bin 'Abdillah Abu Zaid dan Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman
Jika seseorang menyebut Isra'il, maka kata ini selalu disandingkan dengan Yahudi. Ini terjadi di banyak kalangan dari media, forum diskusi, bahkan majelis-majelis ta'lim, tak urung para pembicara tidak membedakan antara Yahudi dengan Isra'il. Seakan dua kata ini memiliki terminologi yang sama. Yahudi adalah Isra'il, dan Isra'il adalah Yahudi. Padahal penisbatan Yahudi kepada Isra'il merupakan kekeliruan! Lantas, bagaimana kedua hal ini bisa disebut berbeda?
Berikut ini kami sampaikan penjelasan mengenai perbedaan ini, menurut pandangan Syaikh Bakar bin 'Abdillah Abu Zaid dan Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman.
Tersebut di dalam kitab Mu'jam Manahil-Lafzhiyah, Darul Ashimah, cetakan III, tahun 1413 H, halaman 93-94, Syaikh Bakar bin 'Abdillah Abu Zaid mengatakan:
Syaikh 'Abdullah bin Zaid Alu Mahmud memiliki sebuah risalah yang berjudul Al-Ishlahu wat-Ta'dilu Fiima Thara-a Ala Ismil-Yahudi wan-Nashara Minat-Tabdil. Di dalam kitab tersebut terdapat tahqiq yang menyinggung, bahwa Yahudi telah terlepas dari Bani Isra'il. Yakni sebagaimana terpisahnya Nabi Ibrahim 'alaihis-salam dari bapaknya, Azar. Kekufuran itu telah memutuskan loyalitas antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, sebagaimana diceritakan dalam kisah antara Nabi Nuh 'alaihis-salam dengan putranya.
Oleh karena itu, keutamaan-keutamaan yang pernah dimiliki Bani Isra'il pada zaman dahulu, sedikitpun tidak ada yang dimiliki kaum Yahudi. Karenanya, justru penyematan nama Bani Isra'il untuk menyebut kaum Yahudi, akan menjadikan mereka meraih keutamaan-keutamaan, dan keburukan mereka pun tertutupi. Demikian ini berakibat hilangnya perbedaan antara Bani Isra'il dengan Yahudi sebagai kaum yang dimurkai Allah 'Azza wa Jalla dan dihinakan dimanapun mereka berada.
Begitu pula, tidak boleh mengganti nama Nashara menjadi al-Masihin, yaitu menisbatkan kepada pengikut Nabi 'Isa al-Masih. Ini merupakan nama baru yang tidak ada dasarnya dalam sejarah, dan tidak juga dalam perkataan para 'ulama. Karena orang Nashara telah mengganti dan menyelewengkan kitab Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana kaum Yahudi telah melakukannya terhada din (agama) Nabi Musa 'alaihis-salam. Memberi nama kepada mereka dengan al-Masih, tidak memiliki dasar hujjah. Kepada mereka Allah 'Azza wa Jalla hanya memberikan nama Nashara, bukan al-Masihin.
Kemudian, kekufuran kaum Yahudi dan Nashara terhadap syari'at Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka menjadi musabab penyebutan atas diri mereka sebagai kafir. Allah berfirman:
“Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. al-Bayyinah [98] : 1)
Jadi sesungguhnya, Yahudi adalah nama bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Nabi Musa 'alaihis-salam. Adapun yang beriman, mereka itulah yang disebut Bani Isra'il. Karena itu, orang-orang Yahudi (sendiri) merasa tidak senang (jika) disebut dengan nama Yahudi.
Adapun Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman menuliskan di catatan kaki kitab beliau, As-Salafiyun wa Qadhiyatu Filasthina, Markaz Baitul-Maqdis, cetakan I, tahun 1423 H, halaman 12-13, sebagai berikut:
Penamaan ini, -yaitu menamakan Yahudi dengan nama Isra'il- merupakan kemungkaran. Telah meluas di tengah masyarakat di negeri Muslim sebuah perkataan yang berkonotasi celaan “Isra'il melakukan ini dan itu, dan akan melakukan tindakan ini dan itu,” padahal Isra'il itu, merupakan salah seorang Rasul Allah (utusan Allah), yaitu Nabi Ya'qub 'alaihis-salam. Dan beliau 'alaihis-salam, sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan negara yang senang berbuat makar dan keji ini. Antara para Nabi dan Rasul, sama sekali tidak ada saling waris-mewarisi dengan orang-orang kafir, musuh mereka. Yahudi, sama sekali tidak memiliki hubungan din (agama) dengan Nabi Allah, Isra'il.
Penamaan seperti ini, memberikan dampak buruk pada pemahaman diri kita. Allah dan para Rasul-Nya tidak akan pernah meridhainya, terutama Nabi Isra'il 'alaihis-salam. Karena Yahudi adalah kaum kafir dan pembohong. Menyematkan nama ini kepada mereka mengandung pelecehan terhadap Nabi Isra'il 'alaihis-salam. Dan yang wajib adalah mencegah penamaan itu.
Dalam Shahih Bukhari nomor 3533, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan dan kutukan orang kafir Quraisy dariku. Mereka hanya mencela orang yang tercela, dan mengutuk orang yang tercela. Sedangkan aku, tetap Muhammad (terpuji).”
Dan kewajiban kita –minimal- membuat mereka gusar dengan penyematan nama Yahudi pada mereka, karena mereka membenci nama ini dan senang dengan penisbatan palsu kepada Nabi Ya'qub 'alaihis-salam. Mereka, sedikitpun tidak mendapatkan keutamaan maupun kemuliaannya.
Syaikh Abdullah bin Zaid Alu Mahmud memiliki sebuah risalah yang sudah dicetak di Qathar, tahun 1398 H, dengan judul al-Ishlahu wat-Ta'dilu Fiima Thara-a Ala Ismil-Yahudi wan-Nashara Minat-Tabdil.
Tentang masalah ini juga, coba lihat Muja'mul-Manahil-Lafzhiyah (44), karya Syaikh Bakar Abu Zaid, majalah kami al-Ashalah, edisi 32, tahun ke-6, tanggal 15 Rabi'ul Awwal 1422 H, halaman 54-57, makalah Syaikh Rabi' bin Hadi, Hukmu Tasmiyati Daulati Yahuda bi Isra'il. Peringatan dalam masalah ini, juga saya temukan dalam kitab Khurafatu Yahudiyah, karya Ahmad as-Syuqairi, halaman 13-30, dengan judul Lastum Abna-u Ibrahima, Antum Abna-u Iblisa.
Hubungi Kami
Didukung Oleh
-
5 Artikel Terbaru
Kategori
- Penulis
- 'Abdul-'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada
- Abu Asiah
- Abu Humaid Arif Syarifuddin
- Abu Ibrahim Muhammad 'Ali
- Abu Mush'ab
- Abu Nida
- Abu Usamah al-Kadiriy
- al-Ustadz Abdul-Hakim bin Amir Abdat
- al-Ustadz Abu Ahmad
- al-Ustadz Abu Humaid, Lc
- al-Ustadz Abu Ihsan al-Atsari al-Maidani
- al-Ustadz Abu Qatadah
- al-Ustadz Abu Saad, MA
- al-Ustadz Khairul Wazni, Lc.
- al-Ustadz Mu’tashim, Lc
- al-Ustadz Syamsuri
- Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman
- Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
- Lajnatu ad-Da-imatu lil-Buhuts al-Ilmiyati wal-Ifta’
- Mamduh Farhan al-Buhairi
- Muhammad Ashim bin Musthafa
- Prof. Dr. 'Abdullah al-Mushlih
- Prof. Dr. Shalah ash-Shawi
- Redaksi Majalah Fatawa
- Shalih bin Muhammad al-Wunaiyyan
- Syaikh Abdul-Aziz bin 'Abdullah bin Baz
- Syaikh Abdul-Hamid al-Bilaly
- Syaikh Abdul-Malik bin Ahmad Ramadhani
- Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman
- Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied al-Hilali
- Syaikh al-'Alamah Prof. Dr. Rabi bin Hadi al-Madkhali
- Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari
- Syaikh Bakar bin 'Abdillah Abu Zaid
- Syaikh Dr. Muhammad Abdurrahman al-Khumais
- Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu Nashr
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
- Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily
- Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan
- Tri Madiyono
- Sumber
- Tema
- Penulis
Beri komentar