Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah Indonesia Apabila Telah Shahih Suatu Hadits, Maka Itulah Madzhab Kami

Arsip untuk Kategori ‘Syi’ah Rafidhah’

Artikel ke-28, Cinta Palsu Syi’ah untuk Ahli Bait

Sekelompok orang menamakan diri sebagai pecinta Ahli Bait. Setiap tahun, terutama di bulan Muharram, mereka mempunyai acara khusus terkait dengannya. Betulkah mereka mencintai Ahli Bait? Istilah Ahli Bait bukanlah sesuatu yang asing di telinga umat Islam. Begitu disebut Ahli Bait, yang tergambar dalam (benak seseorang) adalah seseorang yang mempunyai tali kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artikel ke-27, Peristiwa Karbala dalam Pandangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

Menyikapi peristiwa wafatnya Husain radhiyallahu ‘anhu, umat manusia terbagi menjadi tiga golongan. Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan; “Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, manusia terbagi menjadi tiga, dua golongan yang ekstrim dan satu berada di tengah-tengah.

Artikel ke-18, ‘Asyura adalah Puasa, Bukan Berpesta atau Berkabung

Islam menyodorkan konsep pendidikan yang utuh dan ajeg. Salah satu bentuknya adalah dengan berpuasa. Hikmah puasa, diantaranya, adalah sebagai proses penempaan kejiwaan. Karena itu puasa dianjurkan dilakukan secara rutin. Bukan hanya yang bersifat wajib setiap bulan Ramadhan tiba. Puasa ada yang sunnah dilakukan setiap pekan, yakni puasa pada hari Senin dan Kamis. Harian juga ada seperti puasa Dawud. Kemudian ada pula yang rutin setiap tiga hari setiap bulan. Yang bersifat tahunan pun ada seperti Arafah dan ’Asyura.

Artikel ke-3, ‘Abdullah bin Saba’ Bukan Tokoh Fiktif

Para ahli hadits dan para penulis kitab al-Jarh wa at-Ta’dil, para penulis sejarah serta penulis kitab-kitab tentang aliran-aliran telah sepakat tentang keberadaan tokoh keturunan Yahudi ini, dia ialah ‘Abdullah bin Saba, yang juga berjuluk Ibnu Sauda. Peran yang ia mainkan telah menanamkan bibit kerusakan di kalangan orang-orang munafiqin dan orang-orang sukuisme serta orang-orang yang di dalam hatinya berakar hawa nafsu dan keinginan-keinginan buruk lainnya. ‘Abdullah bin Saba’ memperlihatkan keislamannya pada masa kekhilafahan ‘Utsman. Dia juga mempertontonkan pribadi yang shalih, kemudian berusaha menjalin kedekatan dengan Ali.