<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahlus-Sunnah wal-Jama&#039;ah Indonesia</title>
	<atom:link href="http://ahlussunnah.info/kategori/penulis/lajnatu-ad-da-imatu-lil-buhuts-al-ilmiyati-wal-ifta%e2%80%99/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahlussunnah.info</link>
	<description>Apabila Telah Shahih Suatu Hadits, Maka Itulah Madzhab Kami</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Jun 2011 02:40:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Artikel ke-52: Istighatsah: Mendatangi Kuburan Orang-orang Shalih</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-52-istighatsah-mendatangi-kuburan-orang-orang-shalih</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-52-istighatsah-mendatangi-kuburan-orang-orang-shalih#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 03:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Lajnatu ad-Da-imatu lil-Buhuts al-Ilmiyati wal-Ifta’]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[isthatsah]]></category>
		<category><![CDATA[istighatsah]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[orang shalih]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>
		<category><![CDATA[tawassul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Lajnatu ad-Da-imatu lil-Buhuts al-Ilmiyati wal-Ifta' ditanya; “Ada sebagian orang ketika dalam keadaan tertimpa musibah dan bencana, menyeru dalam do'anya; 'Ya Rasulullah!' Atau selain Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dari para wali. Ketika dalam keadaan sakit mereka mendatangi kuburan orang-orang shalih dan ber-istighatsah (memohon bantuan/pertolongan) dengan perantaraan mereka. Mereka mengatakan; 'Sesungguhnya Allah akan menghilangkan bala' (musibah) dengan perantaraan orang-orang shalih. Memang kami memohon pertolongan kepada mereka tetapi niat kami adalah kepada Allah karena Allah-lah yang memberi pengaruh.' Apakah (perkataan dan perbuatan) seperti ini syirik atau tidak, dan apakah mereka dikategorikan sebagai orang-orang musyrik, padahal mereka (juga) mengerjakan shalat, membaca al-Qur'an dan amal shalih yang lainnya?”]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-52-istighatsah-mendatangi-kuburan-orang-orang-shalih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-17: Bulan Suro Bulan Sial?</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-17-bulan-suro-bulan-sial</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-17-bulan-suro-bulan-sial#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 03:21:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Lajnatu ad-Da-imatu lil-Buhuts al-Ilmiyati wal-Ifta’]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[bulan Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[bulan Shafar]]></category>
		<category><![CDATA[bulan Suro]]></category>
		<category><![CDATA[Hamah (burung hantu)]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[pantangan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[sial]]></category>
		<category><![CDATA[tasya-um (merasa sial)]]></category>
		<category><![CDATA[thiyarah]]></category>
		<category><![CDATA[‘adwa (wabah)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam perhitungan tahun Islam yang sering dikenal dengan tahun Hijriyah. Di Jawa khususnya, Indonesia pada umumnya, bulan Muharram dikenal dengan istilah Suro. Bagi sebagian pihak bulan Suro mempunyai nilai tersendiri. Kalau bagi umat Islam bulan Muharram mengandung hari yang disunnahkan untuk melakukan puasa sunnah. Di hari itu pula Musa diselamatkan dari kejaran Fir'aun. Sementara itu kaum penganut agama Syi’ah Rafidhah menganggap Muharram sebagai bulan kesedihan dan kesialan, demikian pula sebagian orang di Indonesia dalam memandang bulan Suro.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-17-bulan-suro-bulan-sial/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-13: Hukum Menghiasi Masjid Ketika Hari Raya</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-13-hukum-menghiasi-masjid-ketika-hari-raya</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-13-hukum-menghiasi-masjid-ketika-hari-raya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 15:21:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Lajnatu ad-Da-imatu lil-Buhuts al-Ilmiyati wal-Ifta’]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Baitullah]]></category>
		<category><![CDATA[bunga]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[konsentrasi ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[lampu]]></category>
		<category><![CDATA[lilin]]></category>
		<category><![CDATA[lukisan]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Menghias]]></category>
		<category><![CDATA[tasyabbuh (meniru)]]></category>
		<category><![CDATA[‘Idul-Fithri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Belum ada riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengagungkan masjid dengan memberikan penerangan warna-warni dan meletakkan karangan bunga pada saat hari raya ataupun pada saat momen tertentu. Cara pengagungan dengan memberikan lampu warna-warni, tidak dikenal pada masa Khulafa ar-Rasyidin serta para imam dari generasi pertama yang dijadikan panutan yaitu (generasi yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, bahwa mereka merupakan generasi terbaik) padahal pada masa itu masyarakat sudah mengalami kemajuan, memiliki banyak harta, berbudaya tinggi, dan berbagai macam bentuk serta warna perhiasan bisa didapatkan. Dan kebaikan terbaik adalah terletak pada ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, petunjuk Khulafa ar-Rasyidin, serta para ulama yang meniti jalan mereka.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-13-hukum-menghiasi-masjid-ketika-hari-raya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

