<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahlus-Sunnah wal-Jama&#039;ah Indonesia &#187; Majalah as-Sunnah</title>
	<atom:link href="http://ahlussunnah.info/kategori/sumber/majalah-as-sunnah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahlussunnah.info</link>
	<description>Apabila Telah Shahih Suatu Hadits, Maka Itulah Madzhab Kami</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Jun 2011 02:40:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Artikel ke-69: Hukum Menamai Negeri Yahudi dengan Israel</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-69-hukum-menamai-negeri-yahudi-dengan-israel</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-69-hukum-menamai-negeri-yahudi-dengan-israel#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 00:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh al-'Alamah Prof. Dr. Rabi bin Hadi al-Madkhali]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Ya'qub]]></category>
		<category><![CDATA[penamaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Diantara fenomena ganjil yang tersebar yang tersebar di kalangan kaum Muslimin adalah menamai dan menyebut negeri Yahudi yang dimurkai Allah dengan “Israel”! Banyak kaum Muslimin yang membawa nama Rasul ini ketika mencela negeri Yahudi ini dengan mengatakan; “Israel telah melakukan ini, Israel telah melakukan itu, Israel akan melakukan ini dan itu!” Hal ini menurut pandanganku adalah perkara yang mungkar, sekedar wujudnya saja tidak boleh ada pada kaum Muslimin, apalagi menjadi fenomena yang menyebar di kalangan mereka tanpa ada satu pun yang mengingkari!]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-69-hukum-menamai-negeri-yahudi-dengan-israel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-68: Yahudi Bukan Isra’il</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-68-yahudi-bukan-israil</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-68-yahudi-bukan-israil#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 00:04:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Bakar bin 'Abdillah Abu Zaid]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[Isra'il]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Ya'qub]]></category>
		<category><![CDATA[penamaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Jika seseorang menyebut Isra'il, maka kata ini selalu disandingkan dengan Yahudi. Ini terjadi di banyak kalangan dari media, forum diskusi, bahkan majelis-majelis ta'lim, tak urung para pembicara tidak membedakan antara Yahudi dengan Isra'il. Seakan dua kata ini memiliki terminologi yang sama. Yahudi adalah Isra'il, dan Isra'il adalah Yahudi. Padahal penisbatan Yahudi kepada Isra'il merupakan kekeliruan! Lantas, bagaimana kedua hal ini bisa disebut berbeda? Berikut ini kami sampaikan penjelasan mengenai perbedaan ini, menurut pandangan Syaikh Bakar bin 'Abdillah Abu Zaid dan Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-68-yahudi-bukan-israil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-51: Bolehkah Menggali Kubur Muslimin dan Kafir?</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-51-bolehkah-menggali-kubur-muslimin-dan-kafir</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-51-bolehkah-menggali-kubur-muslimin-dan-kafir#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 23:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab dan Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[masjid nabawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Menggali kubur ada dua, kubur muslimin, maka tidak dibolehkan, sedangkan kubur orang kafir dibolehkan. Dan kami telah mengisyaratkan bahwa menggali kubur muslimin tidak dibolehkan kecuali hingga menjadi tanah (jasadnya). Dan ini kapan terjadi? Berkenaan dengan ini berbeda-beda menurut kadar tanahnya. Karena ada tanah yang keras berbatu yang mengakibatkan jasad mayat tetap bertahan beberapa tahun seperti yang dikehendaki Allah. Namun ada pula tanah yang lembab sehingga jasad mayat cepat menjadi tanah. Oleh karena itu tidak mungkin menentukan jangka waktu hancurnya jasad. Seperti dikatakan; “Penduduk kota tersebut lebih mengetahui akan keadaan penduduknya.” Jadi yang menguburkan jasad di tanah tersebut lebih mengetahui jangka perkiraan membusuknya jasad menjadi tanah.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-51-bolehkah-menggali-kubur-muslimin-dan-kafir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-50: Larangan Beribadah di Kuburan</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-50-larangan-beribadah-di-kuburan</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-50-larangan-beribadah-di-kuburan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 12:42:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Nida]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[ngalap berkah]]></category>
		<category><![CDATA[orang shalih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu sarana dan celah yang dapat mengantarkan kepada perbuatan syirik, yaitu beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang shalih. Perbuatan ini telah menjadi fenomena yang telah lama ada, dan bahkan menjadi kebiasaan sebagian besar kaum muslimin di negeri ini. Bahkan bukan lagi beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang shalih tersebut, tetapi telah beribadah kepada orang shalih yang menghuni kuburan tersebut. Kuburan-kuburan orang shalih atau tempat-tempat yang konon merupakan lokasi kuburan orang shalih dikunjungi, lalu melakukan beragam peribadahan di sisinya, seperti; berdoa, shalat, membaca al-Qur'an, thawaf, sedekah dan sebagainya. Padahal dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dapat diketahui, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat keras sikapnya terhadap orang-orang yang beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang yang shalih. Kalau beribadah kepada Allah di sisi kubur saja, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersikap keras, tentu akan lebih keras lagi jika sampai beribadah kepada penghuni kubur tersebut.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-50-larangan-beribadah-di-kuburan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-38: Mengapa Harus Salafi?</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-38-mengapa-harus-salafi</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-38-mengapa-harus-salafi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 07:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj as-Salafush-Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani]]></category>
		<category><![CDATA[al-Firqah an-Najiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ishmah]]></category>
		<category><![CDATA[ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[khalaf]]></category>
		<category><![CDATA[madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[maksum]]></category>
		<category><![CDATA[ta'ashub (fanatik)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya kata “as-Salaf” sudah lazim dalam terminologi bahasa Arab maupun syari'at Islam. Adapun yang menjadi bahasan kita kali ini adalah aspek syari'atnya. Dalam riwayat yang shahih, ketika menjelang wafat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidah Fatimah radhiyallahu 'anha (yang artinya):
“Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik 'as-Salaf' bagimu adalah Aku.”

Dalam kenyataannya di kalangan para Ulama sering menggunakan istilah “as-Salaf.” Satu contoh penggunaan “as-Salaf” yang biasa mereka pakai dalam bentuk syair untuk menumpas bid'ah:
“Dan setiap kebaikan itu terdapat dalam mengikuti orang-orang Salaf.”
“Dan setiap kejelekan itu terdapat dalam perkara baru yang diada-adakan orang Khalaf.”]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-38-mengapa-harus-salafi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-27: Peristiwa Karbala dalam Pandangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-27-peristiwa-karbala-dalam-pandangan-ahlus-sunnah-wal-jamaah</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-27-peristiwa-karbala-dalam-pandangan-ahlus-sunnah-wal-jamaah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 06:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[al-Ustadz Abdul-Hakim bin Amir Abdat]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Tarikh Islam (Sejarah Islam)]]></category>
		<category><![CDATA['asyura]]></category>
		<category><![CDATA['Ubaidullah bin Ziyad]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul-Bait]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[ghuluw]]></category>
		<category><![CDATA[Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi]]></category>
		<category><![CDATA[Husain radhiyallahu 'anhu]]></category>
		<category><![CDATA[Imam yang maksum]]></category>
		<category><![CDATA[Irak]]></category>
		<category><![CDATA[karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Kufah]]></category>
		<category><![CDATA[Muawiyah radhiyallahu 'anhu]]></category>
		<category><![CDATA[Mukhtar bin Abi 'Ubaid al-Kadzdzab]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim bin 'Aqil]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa karbala]]></category>
		<category><![CDATA[suku Tsaqif]]></category>
		<category><![CDATA[Yazîd bin Muawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Menyikapi peristiwa wafatnya Husain radhiyallahu 'anhu, umat manusia terbagi menjadi tiga golongan. Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan; “Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu 'anhu, manusia terbagi menjadi tiga, dua golongan yang ekstrim dan satu berada di tengah-tengah.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-27-peristiwa-karbala-dalam-pandangan-ahlus-sunnah-wal-jamaah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-16: Kafirkah Orang yang Tidak Mengkafirkan Orang Kafir?</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-16-kafirkah-orang-yang-tidak-mengkafirkan-orang-kafir</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-16-kafirkah-orang-yang-tidak-mengkafirkan-orang-kafir#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 12:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[al-Ustadz Abu Ihsan al-Atsari al-Maidani]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Jama’ah Takfir wal-Hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[orang kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Syukri Musthafa]]></category>
		<category><![CDATA[takfir]]></category>
		<category><![CDATA[Uzlah (menyendiri)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Dalam masalah vonis kafir, pertama kita harus mengetahui, takfir (memvonis kafir) merupakan hukum syar’i. Artinya, harus merujuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana halnya hukum-hukum syar’i yang lain. Takfir merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Penerapan hukum wajib dan hukum haram, penetapan pahala dan siksa, penetapan hukum kafir atau fasik, rujukannya ialah Allah dan Rasul-Nya. Siapapun tidak berhak menetapkan hukum dalam masalah ini. Sesungguhnya wajib bagi siapa saja mewajibkan yang telah diwajibkan Allah dan Rasul-Nya dan mengharamkan yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu Fatawa, V/545)]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-16-kafirkah-orang-yang-tidak-mengkafirkan-orang-kafir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-15: Nasihat Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-15-nasihat-bulan-ramadhan</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-15-nasihat-bulan-ramadhan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 15:46:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin]]></category>
		<category><![CDATA[bulan Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[qiyam (berdiri untuk shalat)]]></category>
		<category><![CDATA[tuma’ninah]]></category>
		<category><![CDATA[ular jantan aqra’]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya; “Berkenan dengan datangnya bulan Ramadhan, yang bulan itu sebagai musim ibadah dan ketaatan, alangkah baiknya jika Anda berkenan memberikan nasihat kepada kaum Muslimin berkaitan dengan hal ini. Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga, menolong dan memberikan taufiq kepada Anda.”]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-15-nasihat-bulan-ramadhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-13: Hukum Menghiasi Masjid Ketika Hari Raya</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-13-hukum-menghiasi-masjid-ketika-hari-raya</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-13-hukum-menghiasi-masjid-ketika-hari-raya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 15:21:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Lajnatu ad-Da-imatu lil-Buhuts al-Ilmiyati wal-Ifta’]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Baitullah]]></category>
		<category><![CDATA[bunga]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[konsentrasi ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[lampu]]></category>
		<category><![CDATA[lilin]]></category>
		<category><![CDATA[lukisan]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Menghias]]></category>
		<category><![CDATA[tasyabbuh (meniru)]]></category>
		<category><![CDATA[‘Idul-Fithri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Belum ada riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengagungkan masjid dengan memberikan penerangan warna-warni dan meletakkan karangan bunga pada saat hari raya ataupun pada saat momen tertentu. Cara pengagungan dengan memberikan lampu warna-warni, tidak dikenal pada masa Khulafa ar-Rasyidin serta para imam dari generasi pertama yang dijadikan panutan yaitu (generasi yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, bahwa mereka merupakan generasi terbaik) padahal pada masa itu masyarakat sudah mengalami kemajuan, memiliki banyak harta, berbudaya tinggi, dan berbagai macam bentuk serta warna perhiasan bisa didapatkan. Dan kebaikan terbaik adalah terletak pada ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, petunjuk Khulafa ar-Rasyidin, serta para ulama yang meniti jalan mereka.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-13-hukum-menghiasi-masjid-ketika-hari-raya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-12: Hakikat yang Terlupakan dari Imam asy-Syafi’i</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-12-hakikat-yang-terlupakan-dari-imam-asy-syafi%e2%80%99i</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-12-hakikat-yang-terlupakan-dari-imam-asy-syafi%e2%80%99i#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 15:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Majalah as-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok/Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu Nashr]]></category>
		<category><![CDATA[furu’ (cabang)]]></category>
		<category><![CDATA[hakikat]]></category>
		<category><![CDATA[Imam asy-Syafi’i]]></category>
		<category><![CDATA[terlupakan]]></category>
		<category><![CDATA[ushul (pokok utama)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Imam asy-Syafi’i adalah seorang ulama besar dan salah satu dari empat imam besar, yang ilmunya telah tersebar di penjuru dunia, serta jutaan kaum Muslimin di negara-negara Islam, seperti Iraq, Hijaz, negeri Syam, Mesir, Yaman dan Indonesia bermadzhab dengan madzhabnya. Faktor yang menyebabkan saya memilih pembahasan ini, karena mayoritas kaum Muslimin di negeri ini atau di negara ini berada di atas madzhab asy-Syafi’i dalam masalah furu’ (cabang), dan hanya sedikit dari mereka yang berada di atas madzhab asy-Syafi’i dalam masalah ushul (pokok utama). Ironisnya ini menjadi fenomena.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-12-hakikat-yang-terlupakan-dari-imam-asy-syafi%e2%80%99i/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

