Arsip untuk Kategori ‘Majalah Fatawa’
Artikel ke-72: Buku-buku yang Sebaiknya Dibaca
Menyerap ilmu bisa dilakukan salah satunya dengan membaca buku. Tapi kalau sembarang buku dibaca justru racun yang masuk. Buku dari kalangan liberalis yang dibangun di atas filsafat ahli kalam, misalnya. Berikut kami tampilkan beberapa buku yang layak dibaca oleh kaum Muslimin. Buku-buku ini telah direkomendasikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah. Kiranya daftar ini bisa menjadi salah satu acuan.
Artikel ke-71: Bom dan Cadar
Peristiwa peledakan bom di Legian, Bali, pada tanggal 12 Oktober 2002, sampai hari ini masih hangat dibicarakan di mana-mana. Terlebih ketika diberitakan bahwa istri-istri dari sebagian pelaku peledakan tersebut mengenakan cadar. Akhirnya memunculkan berbagai macam komentar miring, diantaranya adalah komentar sebagian orang bahwa antara bom dan cadar itu terdapat hubungan yang sangat erat ibarat eratnya hubungan antara suami dan istri. Bahkan ada yang sampai menyamaratakan (gebyah uyah) bahwa semua wanita yang bercadar, suaminya adalah teroris! Belum lagi kalau kita lihat dari sikap kebanyakan orang bila melihat wanita yang bercadar. Semua mata akan tertuju kepadanya seolah-olah mereka berkata; “Inilah pendukung teroris!” Lalu, bagaimana sikap kita? Apakah kita akan ikut berkomentar sebagaimana orang berkomentar? Yaitu tanpa didasari dengan ilmu dan semata-mata hanya berdasarkan analisa-analisa akal atau ra’yu (pendapat)!!! Semestinya kita sebagai seorang Muslim setiap mengucapkan suatu ucapan dan melakukan suatu perbuatan, apalagi dalam bersikap, haruslah berdasarkan ilmu sebagaimana yang dikatakan Imam Bukhari. Untuk itu, sekali lagi mari kita lihat permasalahan ini dengan tolok ukur al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salaful-Ummah. Kalau kita tidak mampu melihat langsung dengan tolok ukur tersebut, maka hendaknya kita bertanya kepada ulama yang memahami al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salaful-Ummah dalam rangka mengamalkan perintah Allah: “…maka bertanyalah kamu sekalian kepada orang-orang yang berilmu apabila kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl [16] : 43)
Artikel ke-67: Yahudi, Umat Berkarakter Buruk
Yahudi adalah bangsa yang karakternya sangat buruk, begitu buruk. Merasa sebagai bangsa yang unggul pilihan Allah, dan menganggap pihak luar, apalagi yang tidak mendukung, sebagai bangsa yang harus dijajah bahkan dimusnahkan. Kecurigaan mereka terhadap Muslimin begitu besar, sehingga permusuhan mereka pun paling kuat. Kita coba angkat nash syari’at yang memaparkan buruknya karakter bangsa Yahudi. Perlu juga diulas bagaimana para ulama lewat fatwanya yang didasarkan pada al-Kitab dan as-Sunnah menuntun kita dalam menyikapinya.
Artikel ke-66: Yahudi Musuh Sejati
Kesewenangan dan permusuhan Yahudi tiada henti. Mereka tidak akan pernah senang terhadap Islam. Sejak zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, makar demi makar mereka lakukan. Banyak yang lupa bahwa permusuhan Yahudi sudah berlangsung lama, sejak berdirinya negara Islam di Madinah Nabawiyah dibawah pimpinan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan kualitas permusuhan dan kebencian Yahudi, mereka adalah musuh sejati. “Sesungguhnya engkau akan mendapatkan orang yang paling keras permusuhannya dengan orang yang beriman adalah orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. al-Maidah [5] : 82)
Artikel ke-65: Janji Sejarah Palestina
Di bumi yang mulia itulah kelak akan menjadi pusat al-Khilafah al-Islamiyah. “Wahai Ibnu Hawalah, jika engkau melihat khilafah telah menguasai tanah yang disucikan, maka (ketahuilah bahwa) sungguh telah dekat (waktu terjadinya) gempa-gempa bumi, kekacauan-kekacauan, dan peristiwa-peristiwa penting, dan hari kiamat saat itu lebih dekat dengan umat manusia daripada dekatnya tanganku ini dengan kepalamu.” (Riwayat Abu Dawud dan Ahmad dari ‘Abdullah bin Hawalah al-Azadi) Disanalah berkumpul orang-orang pilihan yang senantiasa menyerukan kebenaran hingga datang hari kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang tetap tegak di atas kebenaran, akan mengalahkan musuh-musuh mereka. Tidak membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka, kecuali kesulitan-kesulitan yang menimpa mereka. Keadaan mereka akan senantiasa seperti itu sampai datang keputusan dari Allah.” Para sahabat bertanya; “Lalu dimana mereka, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab; “Di Baitul-Maqdis dan sekitarnya.” (Musnad Imam Ahmad, Kitab Baqi Musnad al-Anshar (21816))
Artikel ke-63: Ahmad bin Hambal, Imam Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah
Imam Syafi’i berkata; “Aku keluar (meninggalkan) Baghdad, sementara itu tidak aku tinggalkan di kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hambal.”
Artikel ke-62: Imam Syafi’i, Nashirus-Sunnah wal-Hadits, Sang Pembela Sunnah dan Hadits Nabi
Beliau telah menghafal al-Qur’an pada saat berusia 7 (tujuh) tahun, lalu membaca dan menghafal kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 (dua belas) tahun. Beliau bernama Muhammad dengan kun-yah Abu ‘Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-’Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hisyam bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Hasyim bin Abdu Manaf (saudara al-Muththalib).
Artikel ke-61: Imam Malik, Imam Darul-Hijrah
Islam adalah agama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai. Diantara bentuk keridhaan-Nya adalah menjaga agama Islam ini dari kepunahan dan kerusakan. Satu diantara bentuk penjagaan itu ialah dengan memunculkan para ulama sebagai penerus dan pewaris Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka menyampaikan risalah suci kepada manusia, membela dan mempertahankannya dari gangguan ‘tangan-tangan’ musuh Islam dan muslimin, yang tidak senang dengan langgengnya kemurnian Islam. Baik dari orang-orang kafir, kaum munafik, ahli bid’ah atau siapa saja yang serupa dan mengikuti jejak mereka. Banyak sekali ulama Islam yang muncul setelah masa kenabian, dan salah satunya adalah yang ingin kami hadirkan ke hadapan para pembaca guna mengambil pelajaran dan ibrah dari perjalanan hidupnya. Dia adalah salah satu dari empat imam dari generasi ketiga yang tentu tidak asing lagi di telinga kita.
Artikel ke-60: Imam Abu Hanifah
Imam Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang faqih di negeri Irak, salah satu imam dari kaum muslimin, pemimpin orang-orang alim, salah seorang yang mulia dari kalangan ulama dan salah satu imam dari empat imam yang memiliki madzhab. Beliau adalah Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit bin Zuthi (ada yang mengatakan Zutha) at-Taimi al-Kufi maula bani Taimillah bin Tsa’labah. Beliau berasal dari keturunan bangsa Persi. Beliau dilahirkan pada tahun 80 H pada masa shigharus-shahabah.
Artikel ke-59: Imam yang Empat adalah Satu, Mengapa Kita Berselisih?
Imam, pemimpin panutan, sebenarnya sangatlah banyak. Sejak zaman para sahabat hingga kini jumlahnya tak terhitung dengan jari. Namun adalah suatu kenyataan bahwa imam yang begitu masyhur di kalangan umat, tidak hanya di Indonesia, adalah imam yang empat. Tersebutlah nama Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad yang sering menjadi rujukan oleh kebanyakan kaum muslimin. Meski banyak yang mengenalnya dan mengaku sebagai orang yang mengikutinya, ternyata tidak banyak yang mengetahui pendapatnya secara valid. Kebanyakan orang memang hanya mendengar dari orang lain atau tulisan orang lain. Pendapat dan pandangan yang banyak diketahui sebenarnya ‘hanyalah’ hanafiyyah, malikiyyah, syafi’iyyah, ataupun hanbaliyyah, dalam artian berbagai hal yang dinisbahkan (disandarkan) kepada masing-masing empat imam tersebut. Secara mendasar bisa jadi justru tidak sesuai dengan pendapat dan tulisan para imam yang empat tersebut seperti yang terdapat dalam kitab-kitab karyanya. Karena kebanyakan hanya berasal dari turunan dari tulisan orang-orang yang menisbahkan diri pada madzhab (pandangan) empat yang tidak jarang diwarnai ketidak-tahuan atau bahkan fanatik terhadap madzhab yang empat.
Hubungi Kami
Didukung Oleh
-
5 Artikel Terbaru
Kategori
- Penulis
- 'Abdul-'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada
- Abu Asiah
- Abu Humaid Arif Syarifuddin
- Abu Ibrahim Muhammad 'Ali
- Abu Mush'ab
- Abu Nida
- Abu Usamah al-Kadiriy
- al-Ustadz Abdul-Hakim bin Amir Abdat
- al-Ustadz Abu Ahmad
- al-Ustadz Abu Humaid, Lc
- al-Ustadz Abu Ihsan al-Atsari al-Maidani
- al-Ustadz Abu Qatadah
- al-Ustadz Abu Saad, MA
- al-Ustadz Khairul Wazni, Lc.
- al-Ustadz Mu’tashim, Lc
- al-Ustadz Syamsuri
- Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman
- Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
- Lajnatu ad-Da-imatu lil-Buhuts al-Ilmiyati wal-Ifta’
- Mamduh Farhan al-Buhairi
- Muhammad Ashim bin Musthafa
- Prof. Dr. 'Abdullah al-Mushlih
- Prof. Dr. Shalah ash-Shawi
- Redaksi Majalah Fatawa
- Shalih bin Muhammad al-Wunaiyyan
- Syaikh Abdul-Aziz bin 'Abdullah bin Baz
- Syaikh Abdul-Hamid al-Bilaly
- Syaikh Abdul-Malik bin Ahmad Ramadhani
- Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman
- Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied al-Hilali
- Syaikh al-'Alamah Prof. Dr. Rabi bin Hadi al-Madkhali
- Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari
- Syaikh Bakar bin 'Abdillah Abu Zaid
- Syaikh Dr. Muhammad Abdurrahman al-Khumais
- Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu Nashr
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
- Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily
- Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan
- Tri Madiyono
- Sumber
- Tema
- Penulis