<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahlus-Sunnah wal-Jama&#039;ah Indonesia &#187; Fatwa Ulama</title>
	<atom:link href="http://ahlussunnah.info/tag/fatwa-ulama/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahlussunnah.info</link>
	<description>Apabila Telah Shahih Suatu Hadits, Maka Itulah Madzhab Kami</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Jun 2011 02:40:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Artikel ke-39: Bermukim di Negeri Kafir</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-39-bermukim-di-negeri-kafir</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-39-bermukim-di-negeri-kafir#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 03:26:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Siyasah Syar'iah]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[belajar (sekolah) di negara kafir]]></category>
		<category><![CDATA[berdagang ke negara kafir]]></category>
		<category><![CDATA[berobat ke negara kafir]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[darul-kufr (negara kafir)]]></category>
		<category><![CDATA[diplomasi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu]]></category>
		<category><![CDATA[kitab al-Mughni]]></category>
		<category><![CDATA[melancong]]></category>
		<category><![CDATA[mukim]]></category>
		<category><![CDATA[perang Khandaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang merasa bangga bisa bepergian melancong ke negeri orang. Ada yang suka berbelanja pula ke negeri seberang. Tidak sedikit pula yang kemudian menetap dalam waktu yang lama. Ironisnya negara tujuan tersebut adalah negeri kafir, sementara yang melakukan tidak sedikit yang beragama Islam. Bagaimana hukum tinggal di negeri kafir? Fatwa berikut mungkin bisa jadi patokan bagi kita dalam mewujudkan politik luar negeri secara personal.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-39-bermukim-di-negeri-kafir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-34: Fatwa MUI tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-34-fatwa-mui-tentang-pluralisme-liberalisme-dan-sekularisme-agama</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-34-fatwa-mui-tentang-pluralisme-liberalisme-dan-sekularisme-agama#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 09:50:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)]]></category>
		<category><![CDATA[Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme Agama)]]></category>
		<category><![CDATA[1426 H]]></category>
		<category><![CDATA[19 jumadil-akhir]]></category>
		<category><![CDATA[2005 M]]></category>
		<category><![CDATA[22 jumadil-akhir]]></category>
		<category><![CDATA[26 juli]]></category>
		<category><![CDATA[29 juli]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[an-Najasyi]]></category>
		<category><![CDATA[arti pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL PLURALISME]]></category>
		<category><![CDATA[at-Thabaqat al-Kubra]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Quraidzah]]></category>
		<category><![CDATA[Drs. H. Hasanudin]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Huyay bin Ahthab]]></category>
		<category><![CDATA[Jumadil-Akhir]]></category>
		<category><![CDATA[Kaisar Heraklius]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Ma'ruf Amin]]></category>
		<category><![CDATA[Kisra Persia]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[M.Ag]]></category>
		<category><![CDATA[Majusi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralitas]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Dr. H. Umar Shihab]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Dr. HM. Din Syamsudin]]></category>
		<category><![CDATA[raja Abesenia]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Romawi]]></category>
		<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil-Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005 M; MENIMBANG: 1. Bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama serta paham-paham sejenis lainnya di kalangan masyarakat; 2. Bahwa berkembangnya paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama di kalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut; 3. Bahwa oleh karena itu, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-34-fatwa-mui-tentang-pluralisme-liberalisme-dan-sekularisme-agama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-33: Wanita Berdakwah ke Jalan Allah</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-33-wanita-berdakwah-ke-jalan-allah</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-33-wanita-berdakwah-ke-jalan-allah#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 03:57:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Abdul-Aziz bin 'Abdullah bin Baz]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[hijab]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[ikhtilath (campur baur dengan lawan jenis)]]></category>
		<category><![CDATA[JIL (Jaringan Islam Liberal)]]></category>
		<category><![CDATA[kaum wanita]]></category>
		<category><![CDATA[lemah lembut dalam berbicara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Kaum liberalis dan pendukungnya sering menuduh Islam merendahkan kaum wanita. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan bahwa wanita tidak diberi kesempatan untuk berdakwah sekalipun. Dengan dasar ini pula mereka menghembuskan keragu-raguan bahwa ajaran Islam didominasi kepentingan kaum pria. Sebenarnya kalau kaum liberalis yang mendapat sokongan dana dari kaum kafir itu mau sedikit memanfaatkan anugerah akal sehat dan melihat sejarah secara jernih, tuduhan mereka sangatlah rapuh. Bukankah Bunda 'Aisyah radhiyallahu 'anha adalah salah satu contoh peran wanita dalam dakwah Islam? Berapa ratus hadits yang bersumber darinya. Berapa banyak sahabat yang bertanya dan meminta fatwa dari salah satu istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-33-wanita-berdakwah-ke-jalan-allah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-32: Siapa dan Bagaimana Melakukan Dakwah?</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-32-siapa-dan-bagaimana-melakukan-dakwah</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-32-siapa-dan-bagaimana-melakukan-dakwah#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 03:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[al-Ustadz Abu Humaid, Lc]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan]]></category>
		<category><![CDATA[al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih al-Fauzan]]></category>
		<category><![CDATA[Amar ma'ruf]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[hakikat dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[jilid 1]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban berdakwah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid dhirar]]></category>
		<category><![CDATA[munafik]]></category>
		<category><![CDATA[nahi munkar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Medan dakwah itu begitu berat terjal menantang. Karena itu pahala yang dijanjikan pun begitu besar. Sehingga tidak mengherankan banyak yang tertarik untuk terjun ke medan dakwah. Saking banyaknya tidak sedikit yang memaksakan diri untuk menangani permasalahan yang sebenarnya tidak layak diemban. Sekadar berbekal semangat dan percaya diri berusaha menyelesaikan persoalan-persoalan umat. Akhirnya bukan kebaikan dan perbaikan, justru kemunduran dan kesemrawutan. Dakwah tetap harus ditegakkan, tetapi siapa yang berhak untuk mengembannya? Bagaimana pula melakukan dakwah yang bersifat umum menjadi beban setiap orang yang mempunyai tanggung jawab? Berikut adalah fatwa dari Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-32-siapa-dan-bagaimana-melakukan-dakwah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-23: Infotainmen, Barang Haram yang Diminati</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-23-infotainmen-barang-haram-yang-diminati</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-23-infotainmen-barang-haram-yang-diminati#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 13:32:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab dan Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Ade Armando]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[ghibah]]></category>
		<category><![CDATA[infotainmen]]></category>
		<category><![CDATA[JIL (Jaringan Islam Liberal)]]></category>
		<category><![CDATA[Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)]]></category>
		<category><![CDATA[Leo Batubara]]></category>
		<category><![CDATA[Nahdlatul Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[rektor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sebelumnya MUI mengeluarkan fatwa haram untuk SMS kuis, NU mengeluarkan fatwa haram tentang infotainmen. Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU memutuskan untuk mengharamkan segmen infotainmen. Pro kontra pun menyeruak. Dewan Pers merespon positif putusan tersebut. “Penyiaran infotainmen yang menayangkan sajian utama tentang perselingkuhan tanpa dasar, gosip, gunjingan, dan promosi kumpul kebo itu jelas bertentangan dengan UU Pers dan kode etik wartawan,” kata anggota Dewan Pers, Leo Batubara. Senada dengan Leo Batubara, Ade Armando, ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta media lebih menegakkan etika jurnalistik dalam pemberitaannya.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-23-infotainmen-barang-haram-yang-diminati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel ke-19: Fatwa MUI mengenai Hukum Perayaan Natal Bersama</title>
		<link>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-19-fatwa-mui-mengenai-hukum-perayaan-natal-bersama</link>
		<comments>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-19-fatwa-mui-mengenai-hukum-perayaan-natal-bersama#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 03:32:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi AHLUSSUNNAH.INFO</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)]]></category>
		<category><![CDATA[Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Majelis Ulama Indonesia (MUI)]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.info/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengenai Hukum Perayaan Natal Bersama yang dikeluarkan di Jakarta tanggal 1 Jumadil Awal 1401 Hijriyah. Mengingat (1) Perayaan Natal bersama pada akhir-akhir ini disalah-artikan oleh sebagian ummat Islam dan disangkakan sama dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, (2) Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal, dan (3) Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah. Dan menimbang bahwa (1) Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama, dan (2) Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan aqidah dan ibadahnya dengan aqidah dan ibadah agama lain.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.info/artikel-ke-19-fatwa-mui-mengenai-hukum-perayaan-natal-bersama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

