Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah Indonesia Apabila Telah Shahih Suatu Hadits, Maka Itulah Madzhab Kami

Artikel dengan Tag ‘Salafiyah’

Artikel ke-38, Mengapa Harus Salafi?

Sesungguhnya kata “as-Salaf” sudah lazim dalam terminologi bahasa Arab maupun syari’at Islam. Adapun yang menjadi bahasan kita kali ini adalah aspek syari’atnya. Dalam riwayat yang shahih, ketika menjelang wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidah Fatimah radhiyallahu ‘anha (yang artinya):
“Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik ‘as-Salaf’ bagimu adalah Aku.”

Dalam kenyataannya di kalangan para Ulama sering menggunakan istilah “as-Salaf.” Satu contoh penggunaan “as-Salaf” yang biasa mereka pakai dalam bentuk syair untuk menumpas bid’ah:
“Dan setiap kebaikan itu terdapat dalam mengikuti orang-orang Salaf.”
“Dan setiap kejelekan itu terdapat dalam perkara baru yang diada-adakan orang Khalaf.”

Artikel ke-7, Benih Takfir dalam Tubuh Ummat

Definisi takfir, yaitu memvonis atau mensifati seseorang dengan kekafiran, atau mensifatinya dengan hukum kafir; baik dengan alasan yang benar ataupun tidak. Karena itu, saya tegaskan bahwa takfir merupakan hukum syar’i. Ia merupakan wewenang Allaah Subhaanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh kita meniadakan atau menolaknya. Sebab, takfir merupakan hukum syar’i; ada orang yang bisa dikafirkan (dan) ada juga yang terjerumus dalam perbuatan takfir.

Artikel ke-6, Ahlus-Sunnah dan Terorisme

Orang yang menuduh kita sebagai teroris, ia termasuk ahlul-ghuluw (berlebih-lebihan dalam tuduhannya). Ia tidak mengerti dakwah Salafiyah. Dakwah Salafiyah adalah dakwah Islam. Dakwah Salafiyah adalah dakwah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Namun demikian, tidak boleh seorang Salafi (siapapun orangnya) menganggap dirinya berakhlak seperti akhlak Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, atau akhlak para Shahabatnya.